Kepoin Yuk 7 Sebab Tugas Akhir (Skripsi, Tesis, Disertasi) Terasa Berat

Advertisemen 300x250
Penelitian akhir seperti skripsi, tesis, dan disertasi sering kali terasa berat bagi sebagian mahasiswa. Hal ini ditandai dengan adanya mood yang labil.  Dampaknya antara lain berkurangnya waktu efektif untuk mengerjakan penelitian.

Kelihatannya kita duduk lama banget di depan komputer, di laboratorium, di kamar, di perpustakaan, tapi gak ada progres yang signifikan. Bahkan, bisa jadi kita malahan asyik berseluncur di dunia maya seharian. Hehe. 

Tentu hal seperti ini tidak baik untuk kredibilitas diri kita, dosen pembimbing (sebagai orang tua di kampus), departemen, jurusan, dan keluarga di rumah.

Berikut ini saya rangkum 7 sebab yang bisa membuat tugas akhir menjadi berat dan gak selesai-selesai. 


1. Topik penelitian bukan minat saya 

Pernah dengar ada mahasiswa yang suka dengan penelitian eksperimen di lapangan, tapi disuruh dosen menggunakan simulasi? Ada yang suka dengan penelitian pembuatan model tapi dosen mengarahkan penelitian optimasi metode yang sudah ada? 

Kasus seperti ini umumnya terjadi karena kurang komunikasi antara mahasiswa dan calon dosen pembimbing. Bisa juga terjadi karena mahasiswa tidak memiliki topik penelitian yang layak, ujung-ujungnya minta ide dari dosen pembimbing.

Bagi mahasiswa yang belum memilih dosen pembimbing, alangkah baiknya mulai sekarang perbanyak komunikasi dengan dosen-dosen yang menurut kamu bisa menjadi partner penelitian yang sesuai. Hal ini akan mencegah mendapat dosen yang gak cocok.

Kalau sudah terlanjur memilih dosen pembimbing gimana donk? Hee

Jangan buru-buru ditolak bro

Cari tahu dulu apakah topik yang ditawarkan dosen masih relevan dengan keilmuan kita. 

Cari tahu juga ada hal menarik apa yang bisa kita jadikan bola semangat

Kalau kita masih bisa menemukan bola semangat dari topik tersebut, jangan kebanyakan mikir dan ngeluh, tendang terus sampai ke gawang. Bukan tidak mungkin, kita malah akan mensyukurinya.

Kalau tetep gak nemu bola semangatnya gimana nih? 

Melihat pengalaman teman saya, sebaiknya segera minta izin dulu ke dosen pembimbing yang lama untuk ganti pembimbing. Agar tidak menyia-nyiakan waktu pastinya. Perlu diingat, minta izinnya baik-baik dan sopan ya biar gak menimbulkan masalah di kemudian hari. 

Ingat, kurangi kebanyakan mikir, kurangi mengeluh.
Semua pasti ada hikmah dari Sang Pencipta. (Dhahran, 6 Oct 2017)

2. Support kampus belum maksimal

Bidang penelitian sudah cocok dengan dosen, namun bisa jadi ada dari kita yang butuh alat dan bahan instrumen khusus. Dan sayangnya, saya pernah mendengar beberapa kawan saya terhambat karena alat yang mereka butuhkan tidak standar, bahkan ada yang rusak.

Tantangan penelitian yang menggunakan metode eksperimen umumnya lebih membutuhkan banyak support, baik untuk alat, bahan dan validasi. Berbeda dengan penelitian berbasis simulasi atau pengembangan teori.

Misalnya, salah satu kawan saya bidang penelitiannya adalah kimia, yang membutuhkan ketersediaan reaktor untuk mengukur beberapa variabel. Ternyata alat tersebut menghasilkan akurasi yang kurang memuaskan. Sedangkan untuk perbaikan alat tersebut tidaklah sesederhana seperti memperbaiki mobil atau motor. Kita harus mendatangkan teknisi resmi alat tersebut, apalagi itu adalah alat impor.

Kawan saya lainnya, di bidang lainnya, perlu mengestrak data dari bahan yang ia kumpulkan, dengan cara mengirimkannya ke negara lain terlebih dahulu. Biaya yang tidak sedikit tentunya, dan tidak semua penelitian mendapatkan bantuan dari kampus. Pada akhirnya, entah menunggu dana  terkumpul, atau menunggu hasil datanya keluar menjadikan salah satu sebab penelitian semakin menantang.

Menurut kawan-kawan pembaca, kira-kira apa solusinya? 

Nah, sejauh saya melihat, mereka ternyata dapat terus berproses dengan segala keterbatasan. Mereka tetap berjuang dengan kesabaran dan ketekunan. Dan akhirnya, mereka pun menemukan solusinya.

Hidup memang dihiasi tantangan, kesulitan, kekurangan, tidak selalu mudah, namun dengan izin Allah pasti ada solusinya. (Dhahran, 13 Oct 2017)

3. Gak mau mengatur waktu

Waktu adalah aset yang sangat bernilai dalam penelitian. Sebagai contoh, ada kawan saya yang harus tiap pagi ke laboratorium untuk memberikan suatu kadar treatment terhadap objek. Proses tersebut harus dilakukan dalam rentang waktu beberapa minggu, baru kemudian hasilnya dapat diketahui. Bagaimana jika hasilnya tidak signifikan? Treatment akan diulang menggunakan objek lain atau dengan perubahan kadar. Bukankah waktu adalah aset yang begitu berharga?

Contoh lain, ada pula mahasiswa yang harus membaca ratusan bahkan ribuan literatur karena menggunakan metode systematic literature review. Bila satu hari dia tidak menggunakan waktunya dengan baik, berarti dia harus kerja keras dua kali lipat agar tidak melebihi deadline. Bukahkah waktu adalah aset yang sangat penting?

Gak bisa mengatur waktu misalnya, seseorang waktunya tidur malah keseringan begadang yang tidak mendukung tujuannya. Seseorang waktunya mengerjakan penelitian, malah asyik chattingan. Bukankah waktu tidak terulang kembali?

Solusinya? baca poin nomor 4 ya.

4. Sibuk dengan yang lain 

Bahasa gaulnya multi-tasking, kalau bahasa cintanya itu mendua.

Misal, ada tawaran kerja sampingan dan projek yang duitnya lumayan, aktivitas organisasi yang begitu menyita perhatian, traktiran makan di luar, hingga perlombaan-perlombaan yang sering menghabiskan waktu berjam-jam. Padahal, mengatur banyak aktivitas dalam satu waktu itu bukan hal yang mudah.

Ask our self, is it a challenge or an opportunity?

Namun, saya mengingat nasehat inspiratif seorang kawan, kurang lebih seperti ini, "Segala rayuan adalah yang menghambat tujuan, dan semua itu karena setan tidak akan rela sampeyan jadi orang sukses...".

Setelah dipikir-pikir memang masuk akal, apalagi ketika terlena dengan waktu, sering kali penyesalan lah yang akhirnya didapat. Kemampuan fokus dan disiplin kita sedang diuji di sini.

Belum tibakah saatnya kita berubah? (Dhahran, 19 malam 20 Oktober 2017)

5. Belum siap melepas status mahasiswa

Memang benar, di masyarakat kita, status mahasiswa adalah suatu atribut yang terhormat. Terlepas dari kasus oknum yang anarkis dan hedonis, seorang mahasiswa dipersepsikan memiliki sikap ilmiah, wawasan luas, dan intelektual yang tinggi, right? Oleh sebab itu, perkataan seorang mahasiswa memiliki kekuatan persuasif baik di masyarakat dunia nyata maupun masyarakat dunia maya.

Nah, kalau mahasiswa sudah di semester akhir, tidak sedikit yang berpikiran nasib mereka akan seperti apa. Apakah bisa dapat pekerjaan atau malah jadi pengangguran. Ada pula rasa tanggung jawab harus bisa memberi kontribusi nyata untuk masyarakat. Bahkan, ketika sudah lulus, ada yang harus siap ditanya kapan ke pelaminan, benar? Hehe.

6. Belum siap meninggalkan fasilitas kampus

Saya pernah ngobrol dengan seorang mahasiswa yang mengambil semester pendek. Dia memilih tinggal di kampus di saat kebanyakan teman-temannya pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga. Ketika saya tanya, apa alasannya kok di kampus yang sedang sepi ini dia memilih tinggal?

Jawaban dia seperti ini, karena keluarga dia selama liburan musim panas pergi ke desa, dan di sana tidak ada jaringan internet sama sekali. Fasilitas internet gratis kampus begitu penting baginya.

Tentunya, kita tidak boleh menggeneralisir dengan alasan di atas, cukup dijadikan sebagai wawasan saja. Namun, bukan tidak mungkin ada beberapa mahasiswa lain yang memiliki alasan yang kurang lebih sama.

Sebagai contoh di kampus saya, tiap bulan diberi akses internet gratis sebesar 50 GB, harga makan di restoran kampus sepertiga harga di luar, dapat kamar dengan furnitur yang sangat layak, fasilitas olahraga yang gak perlu bayar, dan ditambah uang saku bulanan.

Gimana? cukup menggoda bukan?

7. Kurang mendekat kepada Sang Pencipta

Kita coba asumsikan ada seorang mahasiswa semester akhir, sudah mau di DO juga, lalu hasil penelitiannya kurang memuaskan. Lumrahnya, kalau dia gak kenal atau gak mendekat kepada Sang Pencipta, kemungkinan besar akan mudah emosi, ngeluh, hingga galau yang tidak mendatangkan solusi. Sebaliknya, bila mahasiswa tersebut tetap dekat dengan Sang Pencipta, yang mengizinkan kesulitan datang, dia akan mudah menerima, berbaik sangka, dan tetap mencari solusi hingga kesempatan terakhir. Bukankah bersama kesulitan ada kemudahan?

Tugas akhir secara lahiriahnya memang untuk mendapatkan kelulusan dari kampus, namun di situ juga ada ujian apakah dalam mengerjakan tugas akhir melibatkan Sang Pencipta atau tidak. Pastikan dalam mengerjakan tugas akhir, tak lupa meminta izin dan pertolongan-Nya, agar dilancarkan segala urusannya.

Demikian, 7 hal yang bisa menyebabkan tugas akhir terasa berat bagi mahasiswa.

Kalau kamu punya sebab lainnya, atau solusi untuk sebab-sebab di atas, silakan tambahkan di kotak komentar ya. Salam menyambut winter bro.

(Dahran, 27 Oktober 2017)

Advertisemen 336x280

Read Also:

Related Posts
Disqus Comments